mengapa tak boleh LIFO?

PENGGUNAAN LIFO DALAM PELAPORAN PAJAK, bolehkah?

Terjadi perdebatan dalam menentukan metode penghitungan persediaan apakah yang dipakai untuk kepentingan pelaporan pajak penghasilan dari inventory perusahaan. Pada kenyataannya, kebijakan fiskal di Indonesia meminta agar setiap persediaan akan dinilai berdasarkan historical-cost nya. Undang-undang perpajakan Indonesia hanya memperbolehkan penilaian persediaan barang untuk penghitungan harga pokok dengan metode FIFO atau metode weighted average.

Kritik LIFO dalam kepentingan pajak

Dari data yang didapatkan, para analis pajak berpendapat bahwa metode LIFO seharusnya dihapuskan. Ada beberapa alasan yang disebutkan sebagai suatu kekurangan dalam LIFO untuk mendukung pendapat ini:

  1. Penggunaan LIFO lebih banyak dimaksudkan untuk menghindari (menunda) kewaiban pajak terutama ketika inflasi daripada untuk kepentingan ekonomi. Secara teori memang kewajiban pajak tersebut hanya tertunda sementara, namun selama terus terjadi inflasi, maka penundaan pajak tersebut akan tetap dan mungkin bertambah yang kemudian akan menyebabkan penundaan pajak menjadi permanent. Hal ini juga bertentangan dengan tujuan pajak penghasilan yang menghimpun pajak atas kenaikan dari kekayaan per tahun (tanpa melihat adanya inflasi atau tidak), bukan atas aplikasi prinsip “matching current revenues to current expenses” dari LIFO method.
  2. LIFO tidak digunakan dalam non-tax business purpose. Seperti capital budgeting. Karena meghasilkan arus cash flow yang lebih besar karena income tax yang lebih kecil, net income akan lebih kecil, asset akan terlalu rendah (tidak mencerminkan current value), dan working capital serta current ratio akan rendah. Rata-rata perusahaan yang menggunakan LIFO akan mencantumkan footnote berupa selisih dengan penghitungan FIFO atas persediaan (LIFO reserve). Ini menjadi kritik dari para analis pajak yang berpikir bahwa perusahaan pun sebenarnya mengetahui bahwa metode FIFO akan menghasilkan catatan yang lebih baik untuk kepentingan bisnis daripada LIFO. lalu kenapa masih maksa menggunakan LIFO??
  3. LIFO sebagai suatu pertahanan atas inflasi yang terjadi dinilai kurang relevan, karena hanya digunakan untuk sebagian asset (inventory saja, red.), dan bukan untuk penilaian seluruh asset yang ada dari perusahaan.
  4. Manajemen inventori fisik dari LIFO dinilai buruk, karena pada dasarnya perusahaan berusaha untuk mencegah adanya LIFO liquidation dari LIFO layer yang akan menyebabkan kenaikan kewajiban pajak secara cepat (tiba-tiba). Ini berarti manajemen pengendalian atas pendapatan yang didapat dari LIFO method-inventory juga lebih rumit daripada metode yang lain.
  5. LIFO Reserve yang disajikan dalam laporan keuangan sering kali dinilai lebih rendah dari yang sebenarnya terjadi. Ada indikasi kecurangan yang dinilai oleh para analis pajak ini. Hal ini menyebabkan LIFO semakin dinilai hanya mengejar keuntungan tax-saving. Oleh karena itu, para analis pajak tersebut, berpendapat bahwa LIFO sebaiknya dihapuskan. (maaf, kalau saya salah menginterpretasi, lebih kurang bisa dilihat di http://www.taxanalysts.com/www/website.nsf/Web/FeaturedArticles?OpenDocument).

Jika tidak diperbolehkan, mengapa banyak perusahaan menggunakan LIFO?

Seperti tersirat diatas, ada beberapa alasan sekaligus keuntungan yang dipakai jika perusahaan menggunakan LIFO.  Pemilihan metode penghitungan persediaan yang dipakai perusahaan lebih kurang didasari oleh kebutuhan sesuai kondisi dan situasi dari persediaan tersebut. Untuk beberapa jenis inventory, dibutuhkan LIFO method sebagai dasar penghitungannya. Selain itu, tentu saja ada beberapa keuntungan yang menjadi dasar penggunaan LIFO method.

Dalam penghitungan LIFO, barang yang terjual adalah barang yang pertama kali masuk.  Hal ini akan menyebabkan COGS menjadi lebih tinggi, yang tentu saja menyebabkan net income yang diperoleh menjadi lebih rendah dan berefek pada pengenaan income tax yang lebih kecil dibandingkan dengan penggunaan FIFO. Menurut saya, penggunaan LIFO bukanlah sesuatu yang disengaja untuk menyembunyikan kewajiban pajak, namun merupakan suatu gambaran dari kemampuan ekonomi yang diterima oleh perusahaan, karena ketika terjadi kenaikan harga (inflasi), LIFO akan memberikan pengukuran yang lebih fair dengan keadaan yang sebenarnya terjadi, dimana pendapatan yang diterima oleh perusahaan tentu saja berkurang karena kenaikan harga tersebut. Ketika terjadi LIFO liquidation, maka akan menyebabkan adanya kenaikan kewajiban pajak atas inventory. Dapat dikatakan, selisih dari pajak yang terjadi sebelumnya (antara penggunaan FIFO dan LIFO) akan terbayar. Boleh dikatakan impas antara untung dan rugi yang didapat dari penggunaan LIFO ini.

Untuk kepentingan pajak, laporan laba rugi yang dibutuhkan adalah laporan laba rugi fiskal. Sedangkan perusahaan menggunakan laporan rugi laba komersial yang sesuai dengan standar akuntansi keuangan perusahaan dalam menghitung persediaan dengan metode LIFO. Karena yang diperkenankan udang-undang pajak adalah metode FIFO atau metode rata-rata, maka perlu dikoreksi untuk menghitung kewajiban pembayaran pajak tiap tahunnya.

Menurut dosen pajak di kampus Saya, seluruh laporan laba rugi tersebut pada akhirnya harus dihitung ulang dan dibuat berdasarkan format yang diperbolehkan Ketentuan Pajak yang berlaku. Mungkin, dalam laporan keuangan komersial juga dapat disertakan rekonsiliasi antara laporan laba rugi komersial dan laba rugi fiskal tersebut dengan menyertakan suatu footnote mengenai penghitungan inventory berdasarkan metode LIFO yang digunakan.  Selain itu juga disertakan penghitungan FIFO sebagai perbandingan untuk melihat perbedaan tersebut (seperti LIFO-reserve). Footnote seperti ini dapat dipergunakan ketika perusahaan akan menunjukkan laporan keuangannya pada para investor atau kreditor yang akan memeberi pinjaman atau modal pada perusahaan.

Namun, dari data yang saya temukan, terdapat suatu wacana tentang perubahan yang terjadi pada expossure draft (ED) PSAK 14 (Revisi 2008) yang penerapannya berlaku untuk laporan keuangan yang terjadi pada atau setelah 1 Januari 2009 atas PSAK 14 (1994) mengenai persediaan.

Pada PSAK 14 (1994) dikatakan bahwa persediaan dapat dinilai dengan metode FIFO, LIFO, dan weighted average. Sedangkan pada ED PSAK 14 (revisi 2008) manyatakan bahwa persediaan dinilai dengan FIFO dan average method saja. Segala ketentuan penilaian pada ED PSAK 14 (revisi 2008) ini tidak berlaku untuk : 

  • Pekerjaan dalam proses kontrak konstruksi
  • Persediaan yang berhubungan dengan real estate
  • Instrumen keuangan
  • Aset biologik terkait dengan aktivitas agrikultur dan produk agrikultur pada saat panen
  • Aset biologik terkait dengan hasil hutan
  • Hasil tambang umum dan hasil tambang minyak dan gas bumi
  • Pengukuran persediaan bagi pialang-pedagang komoditi yang mengukur persediaannya pada nilai wajar setelah dikurangi biaya untuk menjual, sesuai dengan praktik yang berlaku pada industri.

Lalu, pada akhirnya, LIFO tetap boleh digunakan untuk penghitungan inventory perusahaan. Penggunaan LIFO ini diizinkan untuk keperluan analisa keuangan sebagai perbandingan dari kemampuan (kredibilitas) yang benar-benar sesuai dengan kondisi keuangan atau perekonomian yang terjadi pada saat tertentu antara suatu perusahaan dengan perusahaan lainnya dalam satu industri. Menurut IRS apabila LIFO digunakan untuk pelaporan pajak, maka LIFO juga harus digunakan untuk pelaporan keuangan (LIFO conformity rule). Namun, perlu diingat bahwa perusahaan tidak dapat merubah metode penilaian persediaan setiap saat sebelum mendapat izin dari otoritas pajak.

Any comment??

About these ads

~ by dipel larasati on March 4, 2009.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

 
Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: